Demented.


Permalink | 9 notes "Di saat aku berhenti meminta pengertianmu, disitulah letihku menemukan bahu sandaran yang baru. Di saat aku berhenti meminta waktumu, disitulah isi hatiku telah menemukan telinga yang baru. Di saat aku berhenti mencari keberadaanmu, disitulah keluh-kesahku telah menemukan pelukan erat yang baru. Di saat itu semua terjadi, kamu bukanlah separuhku lagi."
Permalink | 3 notes "Mau sampai kapan mencicip ini itu, menunggu basinya hal-hal baru, membandingkan seribu satu dengan aku—kalau ‘toh pada akhirnya gusarmu berlabuh di bahuku?"
Permalink | 3 notes "Ketahuilah setiap kali kaubuatnya menangis, ada bara yang memadam di matanya; pemaklumannya."
Permalink | 3 notes "Kamu terlalu berharap pada ‘bahagia’ hingga lupa bahwa masih ada ‘senang’."
Permalink | 5 notes "Kamu tidak tau, entah sudah berapa kali berapa aku membatin “sekali lagi kamu begini, kutinggal pergi” tanpa ada realisasi."
Permalink | 2 notes "Puas pulas-lah berkelana sampai pagi, sayang! Kunanti kamu di gerbang kenyataan. Bukan, aku bukan sebagian mimpi. Aku riil—milikmu."
Permalink | 1 note
Karma

Mungkin ini jawabnya tuk yang sedari dulu bertanya
Perihal rasa berjalan mengenakan sepatumu
Perihal susahnya menjadi kamu
Yang patuh pada suratan tanpa keberatan
Sudi ditempa cerca tanpa iba

Kini kasutmu aku yang tunggangi
Rasanya.. Seperti ini? Pantas saja kamu pergi
Dari orang yang membiarkanmu
Melangkah dengan alas kaki seperti itu
Ma’af.. Tolong jangan membenciku

Permalink | 4 notes "Hatiku gamang, menimang-nimang kemana lagi rinduku bersarang, kalau bukan menuju hatimu yang kusebut ‘pulang’."
Permalink | 0 notes

Aku bermimpi tentang kita.
Tumben, biasanya aku bermimpi tentang dunia asimetris yang perlu kuselamatkan dari kehancuran. Dunia dimana penghuninya serba warna-warni seperti gulali, bulat kotak lonjong, manis sekali. Disana badanku sungguh ringan! Aku suka bagian dimana aku terjun dan tak terjatuh; malah terbang. Kamu ingat ‘kan aku pernah bilang aku ingin sekali bisa terbang, makanya kamu gombali aku terus agar aku melayang?

Aku bermimpi tentang kita.
Aku tidak ingat betul awalnya seperti apa, tiba-tiba sudah ada kamu dan aku dengan latar belakang kelam. Kalau kamu tau lukisan Van Gogh, kira-kira seperti itulah. Seram sekali, aku bergidik. Aneh, kamu bahkan tidak maju sejengkalpun untuk memelukku. Biasanya saat aku kepanasanpun malah sengaja-aja kamu rengkuh, memeperkan peluhmu padaku yang jijik-an hingga minta ampun. “Biarin”, katamu.

Aku bermimpi tentang kita.
Adegan berikutnya aku ingat dengan jelas kamu menunjuk-nunjuk mukaku. Mata pribumimu yang lebih sipit dariku—yang jelas-jelas keturunan cina—kini melotot penuh. Dari mulutmu keluar banyak sekali hewan-hewan yang namanya biasa dipakai serapah. Ada anjing, monyet, babi, dan lain-lain. Aku tercenung. Tapi sepertinya bukan kagum, aku mematung. Semua hewan itu melompat menghujam hatiku, menyeruak masuk bersamaan. Lalu tiba-tiba air terjun keluar dari mataku, deras sekali! Bergalon-galon hingga banjir. Mimpiku banjir! Namun kulihat kamu melangkah angkuh menjauhiku menuju daratan yang lebih tinggi. “Sayang! Aku ‘kan tidak bisa berenang!” aku kelabakan meniru gaya ayam mau terbang.

Aku bermimpi tentang kita.
Aku masih terapung-apung di lautan tangisku sendiri. Arusnya besar dan tak tentu, menabrak-nabrak tubuhku. Aku masih bisa melihatmu memunggungiku dari daratan, enggan memberi bantuan. Aku berteriak keras sekali, berkali-kali. “Sayang!! Tolong!! Sayaang! Oh Tuhan!” bergemingpun kamu tak sudi. Kemudian kubuka mulutku lebar-lebar, memanggil nama kesayanganku; nama khusus pemberianku untukmu, nama yang dulu kamu bilang aneh dan minta diganti saja tapi lama-lama kamu malah suka. Bodohnya, airpun menerobos masuk tanpa tau diri. Aku tercekat dan tenggelam; aku mati.

..Aku terbangun dan kutemukan mimpiku bukanlah gladi.

Permalink | 3 notes "Ada yang meranggas dimakan waktu, sayang. Cintaku gersang. Hatiku tumbang. Cepatlah—cepatlah pulang."