March 2013
6 posts
“Senja itu, angin berdesir lalu. Ia cemburu. Gidik gugup bulu di tengkukmu, kini...”
Mar 11th
Sajak yang Berbalas, Lalu Cinta II
R: Saya mau main ke hati kamu, boleh saya usir mantan kamu yang ada disitu? V: Main saja, duduk saja, geser saja ia. Biar lama-lama jatuh ia. Biar tau rasa ia. R: Tapi lepaskan dulu genggamanmu dari jemarinya, bagaimana dia bisa pergi kalau kamu tarik tangannya? V: Bukan aku menggenggam, tuan. Jemari ini terikat janji, perekat terkuat sejauh kuingat. Bantu kikis, tuan, kecupi pelan-pelan. R:...
Mar 3rd
7 notes
Sajak yang Berbalas, Lalu Cinta
R: Sedang mabuk rindu. V: Berapa kali harus kukatakan, segelas candu jangan ditenggak sekaligus! R: Aku menyuka rindu, sebab selalu membuat nyeri sepi di dada, lenyap entah kemana. V: Jika kamu terjaga dan rindu telah pamit? Dia hanya obat sepi yang semu. Beralihlah ke candu yang pasti, aku, misalnya. R: Ma’af, aku lebih menyukai pelukan kesepian yang menghangatkan dada. V: Jemari...
Mar 3rd
3 notes
Amanat Langit Abu-Abu
V: Beritahu aku jika di duniamu turun hujan R: Lewat desau angin atau gemericik dedaunan V: Perihal rintiknya; apakah bertandak, apakah berlapur? R: Sebab, ruang di bejanaku telah penuh V: Oleh bandangnya rindu R: Mata sedu. ` V: Pun jika di duniaku turun hujan R: Kan ku larung pekiknya padamu V: Kan ku selatkan pilunya di tenggorokmu, R: Semoga sampai nyeri cekik sepi V: Semoga sampai...
Mar 3rd
3 notes
Hari Dimana Aku Berhenti Mengucap Kasih
Ingatlah bahwa aku Orang itu; orang yang menyerah memertahankan kita Karena alasan-alasan yang kamu paham betul mengapa, Pernah dan masih begitu tulus mencintaimu Mencintai dirimu, yang begitu kamu Apa ada-dan-tiadanya Luapan kasih nan maha, Indung bagi tulisan ini; Kanak kandung, dari perasaan itu.
Mar 1st
February 2013
6 posts
“Kamu adalah segala semu yang mengabadi; segala yang terekam ke dalam puisi.”
Feb 28th
5 notes
“Hujan; air sibuk menggenang, aku sibuk mengenang.”
Feb 24th
3 notes
“Kita ialah dua bintang yang merebah di bukit, berciuman tanpa terhalang langit.”
Feb 19th
MCHVNC
Saya baru saja melahirkan tumblr baru yang kali ini akan saya asuh sebagai buku harian maya saya. Silahkan menjenguknya di sini. P.S. Tenang saja, Demented akan tetap menghembuskan sajak :)
Feb 19th
“Kerling matamu; kepak kupu dalam rongga paru, hentak napas bagi sekaratku.”
Feb 19th
3 notes
“Betapa mendung tersia-sia, bila tak dihabiskan dengan membuat kenangan; hangat...”
Feb 18th
1 note
“Kutoreh namamu di samping kata bahagia; kalau-kalau Tuhan bertanya mauku apa.”
Feb 1st
3 notes
January 2013
13 posts
“Bagi puisi-puisi saya, kamu, tak lain ialah Tuhannya.”
Jan 21st
1 note
“Cintaku; ialah secangkir seduhan kafein pekat, dan kamu; ialah malam panjang...”
Jan 21st
1 note
“Dalam hingarmu aku bingar, dalam gerakmu aku gerik, dalam detakmu aku detik,...”
Jan 21st
8 notes
“Kamulah rumah; tempat segala yang ada padaku berpulang, tempat ku bebas lelarian...”
Jan 19th
1 note
“Ada hingar yang begitu sunyi, ada ramai yang begitu sepi; di setiap sesap...”
Jan 19th
3 notes
“Ada ramai yang begitu sepi; di mata seorang tuli, di telinga seorang buta, di...”
Jan 19th
“Suatu hari nanti akan kuseduhkan kau kopi, satu yang beruapkan mentari dan...”
Jan 19th
“Kamu tidak akan pernah kehilangan saya karena saya berpaling, kamu hanya akan...”
Jan 19th
6 notes
Kamu; Satu kata sederhana Yang menyempurna Segala-gala.
Jan 14th
“Mencintai kamu, seperti menyelatkan jiwa pada suatu sajak yang nyaris mati;...”
Jan 14th
Ada Rindu di Setiap Helainya
Sayang, hari ini kupotong rambutku sebahu Dan yang berceceran di lantai, Malah kenangan tentangmu // Salon langganan, 6 Januari 2013
Jan 5th
4 notes
Memuisikan Kebencian
Ingin kumaki-maki kamu dengan puisi Dengan bait-bait berlapiskan dengki Terasah runcing merajai belati Menusukimu hingga kandas, Di telan bumi // Ingin kumaki-maki kamu dengan puisi Agar kamu mawas diri Bahwa, tak hanya tingkahmu yang jawara Perihal sakit-menyakiti // Ingin kumaki-maki kamu dengan puisi Namun yang terbaca, lagi-lagi Betapa kamu masih setengah mati kucintai
Jan 4th
6 notes
“Hujan turun sepanjang hari, rindu menggenang semata hati.”
Jan 4th
3 notes
December 2012
5 posts
Celengan Rinduku Pecah Lebih Dulu
Jika laman ini benar secarik kertas, Nabila Dhyan Ia pasti sudah melebur; membubur Hingga tak bisa kau baca isinya Hingga tak kuasa kau genggam fisiknya Karena selagi laskar doa-doa ini berbaris Langit rindu atasnya tengah menangis // Kuharap kamu belum jenuh menabung, Nabila Dhyan Menjejalkan segala-gala pada abuan Setiap isak, bahak, yang menanti kita pecahkan Karena harga sebuah...
Dec 30th
2 notes
Rizky Mohammad Fachran
Aku ingin menulis Satu saja, sajak mengenai cinta Dengan paduan aksara semanis gula Sehingga pipi siapa-siapa yang membacanya Pun turut merah merona // Aku ingin menulis Sekali ini saja, memuisikan cinta Dari almari kata-kata di kepala Dengan nama panjangmu, sebagai judulnya
Dec 16th
2 notes
Hujan Petang Itu Sajak-Sajakku
Jika sajakku air hujan Ia pasti turun keroyokan, sahut-sahutan Tanpa mendung, tanpa gemuruh peringatan Memerciki celana kerjamu hingga kebasahan, Hingga kamu menggerutu sendirian, di tepi jalan Jika sajakku air hujan Tunggui saja redanya sampai bosan Atau sesekali, coba kamu terobos perlahan Aku tahu jiwamu sebenarnya kegirangan Dan akan diam-diam membiarkan Hatimu hujan-hujanan.
Dec 16th
6 notes
“Sajak tersedih yang saya buat, berjudul “Kamu”.”
Dec 12th
1 note
“Ialah itu; @rizkymfachran segala Maha yang menyederhana, segala sahaja yang...”
Dec 5th
1 note
November 2012
11 posts
“Aku ingin kamu tau, bahwa setiap kali hujan mampir.. Ia selalu menagih aku hal...”
Nov 15th
6 notes
Merantau Ke Kotamu
Sayang, hari ini aku merantau ke kotamu. Mencoba bertukar peran dengan kamu; kini giliranku meninabobokan jarak yang meraung minta dikeloni. Setiap jeda isaknya ku habiskan dengan menyeruput secangkir rindu mendidih sedikit demi sedikit, membiarkan lidahku bercumbu dengan panasnya, hingga kebas, hingga kelu, oleh waktu. Karena aku tau, semuanya itu akan terbayar oleh teduh tatapanmu. Sayang, hari...
Nov 15th
“Kamulah kepingan roman mozaik dalam tiap mimpi. Yang ‘kan terus kuamini,...”
Nov 9th
1 note
“Sebab adakalanya ramaiku hanyalah sunyi lain pribadi; yang piawai berpura...”
Nov 7th
3 notes
“Kuharap akulah bibir cangkir favoritmu; yang pertama dan terakhir mencecap getir...”
Nov 7th
1 note
Sudah wajibku, menyeduhkanmu secangkir cinta bersendokkan jarak. Sudah titahmu, menyeruput didihan rindu sampai melepuh.
Nov 7th
1 note
“Jejanin duka itu meluncur mengikisi pipi, meneriakkan pinta ampunnya hati.”
Nov 7th
2 notes
“Kamu tiada mau tau, bahwa dibalik tujuh warni yang buatmu jatuh hati, ada...”
Nov 7th
2 notes
“Pelukanmu; taman penuh permainan, dan aku; seorang kanak yang rindu lelarian.”
Nov 4th
5 notes
“Perihal jarak, semoga hanya itu kesedihan yang barangkali ‘kan membuatmu...”
Nov 4th
2 notes
'Kamu' yang Aku Bacakan Lantang-Lantang
Kamu, kanak renta yang candu akan luka Yang entah telah berapa gersang berapa bandang kau habiskan; meneduh disini Di tribun kelam, barisan kedua dari masa depan Tanpa pernah berpangku tangan, tanpa pernah berdecak tak tahan Duduk manis memunggungi kenangan yang mengusikmu dengan cambukan Kamu, renta kekanakan yang rindu akan bahagia Masih setia merahasia apa yang ia rasa tak sia-sia Tentang...
Nov 4th
4 notes
September 2012
8 posts
Hati: Mau sampai kapan bergelantungan di situ, harapan? Induk debaran ini kian pelan. Cepatlah beri aku kepastian.
Harapan: Mau sampai kapan menunggui yang tak pasti, hati? Aku bukan bintang, jatuhku tak dinantikan. Sudahlah, lupakan.
Hati: Kau pikir aku ini benda mati yang bisa ditelantari? Mana tanggung jawabmu, aku nyaris meledak dalam keraguan karena ulahmu!
Harapan: Aku mungkin tidak benar, tapi kamu juga bukannya sempurna. Aku memberi kamu menerima. Salah siapa?
Hati: Kalau begitu jatuhlah padaku! Akan kutangkap dirimu tanpa ragu. Cacat pun enggan mengecup lapisan auramu.
Harapan: Aku? Jatuh padamu? Entah nanti, entah tak terjadi. Jangan banyak berimaji, nanti sakit dirasa sendiri. Lagi.
Hati: Haruskah aku menujumu?
Harapan: Aku benci kala kamu keras kepala, lalu menyalahkan aku saat terluka. Terserah kau saja, yang pasti aku tidak pasti menujumu.
Hati: Tak apa aku melulu yang ambil langkah perdana, asal bisa bersama :)
Sep 25th
13 notes
Untuk Kamu Yang Jumawa
Bukan sukar melupa Aku mengedip pun kau langsung sirna Dari mana-mana Bukan gemar mengoleksi Aku berpaling pun kau langsung basi Tak lagi terkini Bukan segan menyakiti Aku terbahak pun kau langsung mati Tanpa basa-basi Aku hanya terbiasa berperan ganda Menyegalakan yang bukan apa-apa Supaya kau kira kau ada kuasa Atas semua gelak air mata Yang mahir ku ada-ada Sungguh teramat...
Sep 23rd
4 notes
Kamu tidak tahu betapa masokisnya aku kala gerimis Menikmati bagaimana anak-anak hujan mengiris saraf amnesia hati Menyilahkannya memahat raut senyummu yang separo mati kutambal delusi Kamu tidak tahu bahwa cukup dengan satu rintik, harapan ini membayi lagi.
Sep 20th
8 notes
“Kita hanyalah segaris warna saat dini dan pagi bercinta, sekedip rasa yang tak...”
Sep 17th
Listen
Sep 16th
Kenapa kamu, memberi kenistaan dalam bentuk harapan? Kenapa aku, menerima kebahagiaan dalam bentuk penipuan? Dan kenapa kita, tak acap tercipta bahkan tuk sekedar wacana?
Sep 16th
5 notes
“Kamu tau yang lebih mustahil dari senja di ufuk timur? Menginginkanmu...”
Sep 12th
10 notes
“Aku mengubur kamu di bawah lapisan rasa, kujilat dengan air mata.. Mengapa kau...”
Sep 12th
3 notes
August 2012
1 post
Aug 21st
2 notes