March 2013
6 posts
Senja itu, angin berdesir lalu. Ia cemburu. Gidik gugup bulu di tengkukmu, kini...
Sajak yang Berbalas, Lalu Cinta II
R: Saya mau main ke hati kamu, boleh saya usir mantan kamu yang ada disitu?
V: Main saja, duduk saja, geser saja ia. Biar lama-lama jatuh ia. Biar tau rasa ia.
R: Tapi lepaskan dulu genggamanmu dari jemarinya, bagaimana dia bisa pergi kalau kamu tarik tangannya?
V: Bukan aku menggenggam, tuan. Jemari ini terikat janji, perekat terkuat sejauh kuingat. Bantu kikis, tuan, kecupi pelan-pelan.
R:...
Sajak yang Berbalas, Lalu Cinta
R: Sedang mabuk rindu.
V: Berapa kali harus kukatakan, segelas candu jangan ditenggak sekaligus!
R: Aku menyuka rindu, sebab selalu membuat nyeri sepi di dada, lenyap entah kemana.
V: Jika kamu terjaga dan rindu telah pamit? Dia hanya obat sepi yang semu. Beralihlah ke candu yang pasti, aku, misalnya.
R: Ma’af, aku lebih menyukai pelukan kesepian yang menghangatkan dada.
V: Jemari...
Amanat Langit Abu-Abu
V: Beritahu aku jika di duniamu turun hujan
R: Lewat desau angin atau gemericik dedaunan
V: Perihal rintiknya; apakah bertandak, apakah berlapur?
R: Sebab, ruang di bejanaku telah penuh
V: Oleh bandangnya rindu
R: Mata sedu.
`
V: Pun jika di duniaku turun hujan
R: Kan ku larung pekiknya padamu
V: Kan ku selatkan pilunya di tenggorokmu,
R: Semoga sampai nyeri cekik sepi
V: Semoga sampai...
Hari Dimana Aku Berhenti Mengucap Kasih
Ingatlah bahwa aku
Orang itu; orang yang menyerah memertahankan kita
Karena alasan-alasan yang kamu paham betul mengapa,
Pernah dan masih begitu tulus mencintaimu
Mencintai dirimu, yang begitu kamu
Apa ada-dan-tiadanya
Luapan kasih nan maha,
Indung bagi tulisan ini;
Kanak kandung, dari perasaan itu.
February 2013
6 posts
Kamu adalah segala semu yang mengabadi; segala yang terekam ke dalam puisi.
Hujan; air sibuk menggenang, aku sibuk mengenang.
Kita ialah dua bintang yang merebah di bukit, berciuman tanpa terhalang langit.
MCHVNC
Saya baru saja melahirkan tumblr baru yang kali ini akan saya asuh sebagai buku harian maya saya. Silahkan menjenguknya di sini.
P.S.
Tenang saja, Demented akan tetap menghembuskan sajak :)
Kerling matamu; kepak kupu dalam rongga paru, hentak napas bagi sekaratku.
Betapa mendung tersia-sia, bila tak dihabiskan dengan membuat kenangan; hangat...
Kutoreh namamu di samping kata bahagia; kalau-kalau Tuhan bertanya mauku apa.
January 2013
13 posts
Bagi puisi-puisi saya, kamu, tak lain ialah Tuhannya.
Cintaku; ialah secangkir seduhan kafein pekat, dan kamu; ialah malam panjang...
Dalam hingarmu aku bingar, dalam gerakmu aku gerik, dalam detakmu aku detik,...
Kamulah rumah; tempat segala yang ada padaku berpulang, tempat ku bebas lelarian...
Ada hingar yang begitu sunyi, ada ramai yang begitu sepi; di setiap sesap...
Ada ramai yang begitu sepi; di mata seorang tuli, di telinga seorang buta, di...
Suatu hari nanti akan kuseduhkan kau kopi, satu yang beruapkan mentari dan...
Kamu tidak akan pernah kehilangan saya karena saya berpaling, kamu hanya akan...
Kamu;
Satu kata sederhana
Yang menyempurna
Segala-gala.
Mencintai kamu, seperti menyelatkan jiwa pada suatu sajak yang nyaris mati;...
Ada Rindu di Setiap Helainya
Sayang, hari ini kupotong rambutku sebahu
Dan yang berceceran di lantai,
Malah kenangan tentangmu
//
Salon langganan, 6 Januari 2013
Memuisikan Kebencian
Ingin kumaki-maki kamu dengan puisi
Dengan bait-bait berlapiskan dengki
Terasah runcing merajai belati
Menusukimu hingga kandas,
Di telan bumi
//
Ingin kumaki-maki kamu dengan puisi
Agar kamu mawas diri
Bahwa, tak hanya tingkahmu yang jawara
Perihal sakit-menyakiti
//
Ingin kumaki-maki kamu dengan puisi
Namun yang terbaca, lagi-lagi
Betapa kamu masih setengah mati kucintai
Hujan turun sepanjang hari, rindu menggenang semata hati.
December 2012
5 posts
Celengan Rinduku Pecah Lebih Dulu
Jika laman ini benar secarik kertas, Nabila Dhyan
Ia pasti sudah melebur; membubur
Hingga tak bisa kau baca isinya
Hingga tak kuasa kau genggam fisiknya
Karena selagi laskar doa-doa ini berbaris
Langit rindu atasnya tengah menangis
//
Kuharap kamu belum jenuh menabung, Nabila Dhyan
Menjejalkan segala-gala pada abuan
Setiap isak, bahak, yang menanti kita pecahkan
Karena harga sebuah...
Rizky Mohammad Fachran
Aku ingin menulis
Satu saja, sajak mengenai cinta
Dengan paduan aksara semanis gula
Sehingga pipi siapa-siapa yang membacanya
Pun turut merah merona
//
Aku ingin menulis
Sekali ini saja, memuisikan cinta
Dari almari kata-kata di kepala
Dengan nama panjangmu, sebagai judulnya
Hujan Petang Itu Sajak-Sajakku
Jika sajakku air hujan
Ia pasti turun keroyokan, sahut-sahutan
Tanpa mendung, tanpa gemuruh peringatan
Memerciki celana kerjamu hingga kebasahan,
Hingga kamu menggerutu sendirian, di tepi jalan
Jika sajakku air hujan
Tunggui saja redanya sampai bosan
Atau sesekali, coba kamu terobos perlahan
Aku tahu jiwamu sebenarnya kegirangan
Dan akan diam-diam membiarkan
Hatimu hujan-hujanan.
Sajak tersedih yang saya buat, berjudul “Kamu”.
Ialah itu; @rizkymfachran segala Maha yang menyederhana, segala sahaja yang...
November 2012
11 posts
Aku ingin kamu tau, bahwa setiap kali hujan mampir.. Ia selalu menagih aku hal...
Merantau Ke Kotamu
Sayang, hari ini aku merantau ke kotamu. Mencoba bertukar peran dengan kamu; kini giliranku meninabobokan jarak yang meraung minta dikeloni. Setiap jeda isaknya ku habiskan dengan menyeruput secangkir rindu mendidih sedikit demi sedikit, membiarkan lidahku bercumbu dengan panasnya, hingga kebas, hingga kelu, oleh waktu. Karena aku tau, semuanya itu akan terbayar oleh teduh tatapanmu.
Sayang, hari...
Kamulah kepingan roman mozaik dalam tiap mimpi. Yang ‘kan terus kuamini,...
Sebab adakalanya ramaiku hanyalah sunyi lain pribadi; yang piawai berpura...
Kuharap akulah bibir cangkir favoritmu; yang pertama dan terakhir mencecap getir...
Sudah wajibku, menyeduhkanmu secangkir cinta bersendokkan jarak.
Sudah titahmu, menyeruput didihan rindu sampai melepuh.
Jejanin duka itu meluncur mengikisi pipi, meneriakkan pinta ampunnya hati.
Kamu tiada mau tau, bahwa dibalik tujuh warni yang buatmu jatuh hati, ada...
Pelukanmu; taman penuh permainan, dan aku; seorang kanak yang rindu lelarian.
Perihal jarak, semoga hanya itu kesedihan yang barangkali ‘kan membuatmu...
'Kamu' yang Aku Bacakan Lantang-Lantang
Kamu, kanak renta yang candu akan luka
Yang entah telah berapa gersang berapa bandang kau habiskan; meneduh disini
Di tribun kelam, barisan kedua dari masa depan
Tanpa pernah berpangku tangan, tanpa pernah berdecak tak tahan
Duduk manis memunggungi kenangan yang mengusikmu dengan cambukan
Kamu, renta kekanakan yang rindu akan bahagia
Masih setia merahasia apa yang ia rasa tak sia-sia
Tentang...
September 2012
8 posts
Hati: Mau sampai kapan bergelantungan di situ, harapan? Induk debaran ini kian pelan. Cepatlah beri aku kepastian.
Harapan: Mau sampai kapan menunggui yang tak pasti, hati? Aku bukan bintang, jatuhku tak dinantikan. Sudahlah, lupakan.
Hati: Kau pikir aku ini benda mati yang bisa ditelantari? Mana tanggung jawabmu, aku nyaris meledak dalam keraguan karena ulahmu!
Harapan: Aku mungkin tidak benar, tapi kamu juga bukannya sempurna. Aku memberi kamu menerima. Salah siapa?
Hati: Kalau begitu jatuhlah padaku! Akan kutangkap dirimu tanpa ragu. Cacat pun enggan mengecup lapisan auramu.
Harapan: Aku? Jatuh padamu? Entah nanti, entah tak terjadi. Jangan banyak berimaji, nanti sakit dirasa sendiri. Lagi.
Hati: Haruskah aku menujumu?
Harapan: Aku benci kala kamu keras kepala, lalu menyalahkan aku saat terluka. Terserah kau saja, yang pasti aku tidak pasti menujumu.
Hati: Tak apa aku melulu yang ambil langkah perdana, asal bisa bersama :)
Untuk Kamu Yang Jumawa
Bukan sukar melupa
Aku mengedip pun kau langsung sirna
Dari mana-mana
Bukan gemar mengoleksi
Aku berpaling pun kau langsung basi
Tak lagi terkini
Bukan segan menyakiti
Aku terbahak pun kau langsung mati
Tanpa basa-basi
Aku hanya terbiasa berperan ganda
Menyegalakan yang bukan apa-apa
Supaya kau kira kau ada kuasa
Atas semua gelak air mata
Yang mahir ku ada-ada
Sungguh teramat...
Kamu tidak tahu betapa masokisnya aku kala gerimis
Menikmati bagaimana anak-anak hujan mengiris saraf amnesia hati
Menyilahkannya memahat raut senyummu yang separo mati kutambal delusi
Kamu tidak tahu bahwa cukup dengan satu rintik, harapan ini membayi lagi.
Kita hanyalah segaris warna saat dini dan pagi bercinta, sekedip rasa yang tak...
Kenapa kamu, memberi kenistaan dalam bentuk harapan?
Kenapa aku, menerima kebahagiaan dalam bentuk penipuan?
Dan kenapa kita, tak acap tercipta bahkan tuk sekedar wacana?
Kamu tau yang lebih mustahil dari senja di ufuk timur? Menginginkanmu...
Aku mengubur kamu di bawah lapisan rasa, kujilat dengan air mata.. Mengapa kau...
August 2012
1 post